Di rangkum dari buku “Berani Gagal” karya Billi P. S. Lim
Apabila mengkaji kehidupan orang sukses luar biasa, Anda dapat menyimpulkan banyak di antara mereka bernasib baik karena hanya mengalami “kegagalan” dalam arti yang sebenarnya. Akibat dari kegagalan itu, mereka dapat menggunakan “waktu berpikir kreatif”, untuk menyempurnakan produk yang ada atau menghasilkan produk baru atau usaha baru yang mungkin belum terpikirkan. Kalau mereka tidak gagal, dan menggunakan sikap yang baik, mereka tidak bisa memanfaatkan peluang dari suatu ketidak beruntungan.
Hal penting yang ingin saya tekankan adalah….. produk yang ada atau produk baru, atau usaha baru……..jadi kalau kita mengalami kegagalan kita harus berinovasi kembali. Membuat sesuatu yang lebih baik, atau membuat yang baru.
Ya, umumnya kita terpaku pada karier dan keterampilan yang dimiliki sesuai lingkungan di mana kita di besarkan. Seorang petani bisa mendidik anaknya sebagai seorang calon dokter, dan seorang politikus dapat mengasuh anaknya sebagai seorang calon politikus.
Kadang kala apabila seseorang gagal setelah berusaha dengan tabah dan mengerahkan sepenuh tenaga untuk sekian lama, mungkin tiba saatnya ia mengkaji kembali bidang yang digeluti dan menilai apakah ia mampu untuk mendapatkan apa yang diinginkan di bidang tersebut.
“Apabila Anda tidak dapat mengubah arah angin, aturlah layar Anda.” (Anonim)
Banyak cara untuk mencapai tujuan hidup. Sebagian lebih cepat atau lebih lambat DARIPADA YANG LAIN.
Sebagai contoh, jika kita sopir angkot, berapa banyak penghasilan yang akan kita peroleh dan sejauh mana kita mampu memenuhi kebutuhan hidup kita ?
Sopir angkot memperoleh penghasilan biasanya antara Rp. 500.000 – Rp. 1.000.000 setiap bulan. Kita mungkin bekerja keras setiap hari, sama seperti sopir angkot, tetapi akhirnya mungkin masih tetap miskin. Tetap saja kita bergelut dengan yang namanya kemiskinan dalam tanda petik.
Sama saja seperti prinsip membangkitkan semangat (principle of leverage) yang kita temui dalam bidang fisik, dalam kehidupan juga ada “prinsip membangkitkan semangat” (pengungkit)!
Setelah menimba pengalaman dan ilmu secukupnya dalam salah satu bidang bisnis, kita mungkin ingin bertukar ke bisnis lain. Jika kita punya toko kelontong, kini mugkin kita akan membuat suatu keputusan untuk membuka cabang di semua kota. Semua ini akan mengubah “pemicu” untuk mendapatkan apa yang kita kehendaki dalam hidup. Kadang kala dalam kehidupan, seperti kata Frank Jappa, “Tanpa penyimpangan, tidak mungkin memperoleh kemajuan.”
Oleh karena itu, janganlah terlalu kaku mengatakan bahwa Anda tidak bisa berubah. Kadang kala dalam kehidupan kita terpaksa menekuni bidang usaha yang berlainan–dankita mesti menyesuaikan segala ketrampilan dan bakat yang diperoleh dari bidang-bidang usaha di masa lalu serta menyalurkannya ke bidang usaha yang baru. Kita mungkin terpaksa mempelajari ketrampilan baru!
Pernahkah Anda bertanya bagaimana orang Jepang bangkit kembali dari kehancuran dari PD-II untuk menjadi penguasa ekonomi yang unggul saat ini? Dulu ketika masa di mana produk Jepang belum di akui, banyak di antara kita yang ragu-ragu membeli barang-barang Jepang (sama kondisinya sekarang bila kita membeli barang yang berasal dari China untuk barang otomotif atau sepeda motor). Sekarang, sangat sulit bagi kita untuk hidup tanpa barang-barang buatan Jepang di dalam rumah kita. Ini tidak hanya berlaku di negara kita saja, tetapi bahkan di seluruh dunia.
Bersambung…………
ditunggu kelanjutannya mas… jo lali lo
kebiasaan diri adalah jika gagal segera carilah kambing hitam, walah betapa hinanya diri ini.
kebiasaan diri jika gagal adalah segeralah cari kambing hitam. walah betapa hinanay diri ini.
gagal dah biasa tuh
hehehe
ditunggu next part nya
gagal..?bila tidak dihadapi dengan benar dapat timbul depresi… kemudian psikosis, skizopreni dan gangguan jiwa serta berakhir dengan gangguan jiwa…
*hi..hi… makanya jangan mau gagal*
Gagal jadi makanan sehari-hari ! Tapi baru ini saya memahami kalau kita gagal harus mimpi lagi !