Mengapa kita mesti mengalami “kegagalan” ?
Bagaimana sebongkah “batu kasar” dapat diubah menjadi berlian cantik yang begitu digemari oleh setiap wanita ? Dengan memoles ! Ya, berlian mentah dipoles dan digosok berulang kali, sehingga menjadi berlian yang Anda lihat di lemari perhiasan. Batu berlian perlu digosok berulangkali sebelum menjelma sebagai berlian perhiasan. Begitu juga dengan kita semua. Kita perlu diuji dengan masa sulit, dan menderita sebelum menjadi unggul !
Tetapi kebanyakan dari kita tidak memahaminya. Ketika mengalami masa sulit, masa mengecewakan, kita menjadi marah dan kecewa. Kita mulai memaki dan menyumpah-serapah. MENGAPA AKU ? Orang yang tidak dapat megetahui manfaat pengalaman buruk mungkin terus tunduk kepada nasib dan menghabiskan sisa hidup sebagai orang yang marah dan kecewa, dan juga menjadi pecundang. Akibatnya sesuatu yang amat menyedihkan, selalu terjadi pada diri orang yang meratapi kegagalan sebagai sebuah musibah. Seharusnya sebuah kegagalan harus disikapi sama seperti ketika kita mengalami kesuksesan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut adalah sama. Hanya cara pandang kita saja yang menjadikan kegagalan itu sesuatu yang menyakitkan dan menyedihkan.
Jadi, pada dasarnya nilai kegagalan adalah sama seperti halnya ketika kita mengalami kesuksesan. Tinggal kita merubah sikap saja dalam menerima kegagalan sebagai bagian dari suatu kesuksesan.
0 Tanggapan ke “NILAI KEGAGALAN”