RENUNGAN

KETELADANAN ADALAH KUNCI PENDIDIKAN SEPANJANG MASA

(Dikutip dari tulisan Farid Ma`ruf)

Barang siapa yang memberikan contoh yang baik dalam Islam maka baginya pahala atas perbuatan baiknya dan pahala orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tidak menghalangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barang siapa yang memberikan contoh yang buruk didalam Islam maka baginya dosa atas perbuatannya dan dosa orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat. Yang demikian itu tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang-orang yang mengikutinya” (HR Muslim)

Sungguh hadits ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan contoh, apalagi sebagai orang tua, kita dituntut lebih hati-hati. Sengaja atau tidak, ada efek negatif maupun positif. Kesalahan dalam membentuk karakter anak tanpa sengaja dapat terjadi dengan keteladanan yang buruk. Akibatnya bisa fatal, yaitu membentuk karakter yang rusak.

Memang banyak tips dan cara untuk mendidik anak, ada yang dengan metode A ada yang menyarankan dengan metode B. Namun, dari setiap metode-metode yang selama ini saya baca, keteladanan adalah metode yang jitu dalam pendidikan anak-anak di keluarga. Disini saya akan membahas fakta tentang pendidikan di rumah, pentingnya keteladanan dalam pendidikan, dan bagaimana orang tua agar mampu menjadi tauladan yang baik untuk anak

Pertama, cara mendidikan anak-anak dalam rumah. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa pendidikan itu akan terbentuk hanya di sekolah-sekolah, jadi tidaklah perlu orang tua mengarahkan anak-anaknya dirumah. Bahkan ada sebagian orang tua yang tidak tahu tujuan dalam mendidik anak. Perlu kita pahami, bahwasannya pendidikan dirumah yang meskipun sering disebut sebagai pendidikan informal, bukan berarti bisa diabaikan begitu saja. Orang tua harus memahami bahwa keluarga merupakan institusi pendidikan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan institusi pendidikan formal. Ini bisa dimengerti karena keluarga merupakan sekolah paling awal bagi anak. Di keluargalah seorang anak pertama kali mendapatkan pengetahuan, pengajaran dan pendidikan.

Selain itu, orang tua juga harus mengetahui apa tujuan mereka mendidik anak-anaknya, apakah hanya sekedar bisa survive di dunia ini ataukah menginginkan anak-anaknya menjadi generasi yang unggul. Tujuan utama pendidikan adalah untuk melahirkan generasi-generasi yang berkepribadian Islam (syakhshiyah Islamiyyah), atau dengan kata lain, tujuan kita mendidik anak adalah untuk menjadikan mereka anak-anak yang sholeh/sholehah. Dan ini merupakan tugas utama sebagai orang tua. Setiap orang tua muslim pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh/sholehah, karena mereka nanti adalah aset yang sangat berharga baik di dunia maupun diakherat. Di dunia mereka akan senantiasa patuh pada Allah dan kedua orang tuanya, dan bisa menjadi kebanggan keluarga, sedangkan di akherat nanti mereka akan menolong kedua orang tuanya, karena amalan yang tetap mengalir meskipun orang tua meninggal adalah doa anak sholeh/sholehah.

Kedua, pentingnya teladanan dalam mendidikan. Sebagaimana kita ketahui, Allah juga memberikan contoh-contoh Nabi atau orang yang bisa kita jadikan suri teladan dalam kehidupan atau peringatan agar kita tidak menirunya, sebagaimana firmanNya: “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji” (Qs. al Mumtahanah [60]: 6)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Qs. Al-Ahzab [33]: 21)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Luqman [31]: 12)

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa” (Qs. al-Lahab [111]: 1)

Oleh karena itu, keteladanan dalam dunia pendidikan adalah sangat penting, apalagi kita sebagai orang tua yang diamanahi Allah berupa anak-anak, maka kita harus menjadi teladan yang baik buat anak-anak. Kita harus bisa menjadi figur yang ideal bagi anak-anak, kita harus menjadi panutan yang bisa mereka andalkan dalam mengarungi kehidupan ini. Jadi jika kita menginginkan anak-anak kita mencintai Allah dan RosulNya maka kita sendiri sebagai orang tua harus mencintai Allah dan RosulNya pula, sehingga kecintaan itu akan terlihat oleh anak-anak. Akan sulit untuk melahirkan generasi yang taat pada syari’at jika kedua orang tuanya sering bermaksiat kepada Allah. Tidaklah mudah untuk menjadikan anak-anak yang gemar mencari ilmu Allah jika kedua orang tuanya lebih suka melihat televisi daripada membaca dan datang ke ceramah-ceramah, dan akan terasa susah untuk membentuk anak yang mempunyai jiwa pejuang dan rela memberikan segalanya untuk kepentingan Islam, jika bapak ibunya sibuk dengan aktivitas kerja meraih materi dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan dakwah. Sebagai contoh, apa yang terjadi di Palestina, setiap generasi disana sejak kecil sudah menjadi mujahid, jiwa mereka sudah tidak ada rasa takut terhadap kematian dan mereka siap melakukan apa saja demi kejayaan Islam, ini semua karena orang tua mereka memberikan contoh nyata kepada mereka.

Disamping itu, tanpa keteladanan, apa yang kita ajarkan kepada anak-anak kita akan hanya menjadi teori belaka, mereka seperti gudang ilmu yang berjalan namun tidak pernah merealisasikan dalam kehidupan. Kita selalu mengajarkan agar anak kita mencintai Allah, namun kita sendiri lebih mencintai dunia…maka pengajaran tentang hal itu akan sulit untuk direalisasikan. Yang lebih utama lagi, metode keteladanan ini bisa kita lakukan setiap saat dan sepanjang waktu. Dengan keteladanan pengajaran-pengajaran yang kita sampaikan akan membekas dan metode ini adalah metode termurah dan tidak memerlukan tempat tertentu. Jadi…mampukan kita menjadi uswatun hasanah bagi anak-anak kita??

Untuk mampu menjadi uswatun hasanah, syarat utama adalah kita sebagai orang tua harus tahu Islam secara menyeluruh, bagi yang belum tahu Islam tidak ada kata terlambat, belajar Islam menjadi prioritas agar kita menjadi uswah yang ideal buat anak-anak. Islam adalah landasan yang ideal untuk membentuk suatu kepribadian, karena Islam adalah aturan yang menyeluruh bagaimana manusia hidup di dunia ini.

Khatimah

Mempunyai anak sholeh (anak yang berkepribadian Islam) adalah impian setiap orang tua, dengan keteladanan sepanjang masa adalah metode paling efektif. Orang tua juga harus mampu menjadi uswah yang baik buat anak-anaknya, namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah. [Rusydatun Nasirah]

1 Tanggapan ke “RENUNGAN”


  1. 1 ardi April 16, 2007 pukul 12:07 pm

    makna terurai dalam tulisan sesuai dengan judulnya, sudah jelas :
    KETELADANAN ADALAH KUNCI PENDIDIKAN SEPANJANG MASA = senada dengan
    ramuan rumus pendidikan panutan Indonesia Ki Hadjar Dewantoro :

    Ing Ngarso Sung Tuladha = di depan memberi keteladanan/contoh.
    Memang di usia kanak-kanak, phase belajarnya adalah dengan meniru,
    apapun dilakukan/perbuat orang dekat (orang tua),pasti akan ditiru
    tanpa berfikir, demikianlah adanya. Maka dilarang “memukul” anak, karena tak mau sholat. Cukup dicontohi karena usia mereka belum Aqil Baligh.

    [maknawi diatas sebenarnya elastis, siapapun dijadikan pemimpin/dituakan musti mampu menempatkan diri sebagi sosok patut dicontoh
    anaknya, yang muda, bawahannya].Nasehat tak harus diberikan dengan kata/ucapan, tetapi lewat tingkah laku/perbuatan/contoh terlebih dahulu. Bila tidak,skadar mengatakan tak berkenan menjalani, jelas membuat ketidakpuasan pihak lain terhadap dirinya terus akan kehilangan kepercayaan kepadanya] biso ngajar ora biso ngelakoni?sejajar dengan sifat munafiq kah?
    pihak lain = anak, kaum muda, bawahan.

    Ing Madyo Mangun Karsa = di tengah memberi dorongan. bangun watak
    Di phase ini, usia menginjak Aqil Baligh = usia puber [padanan?]
    anak mulai bisa berfikir, menggunakan nalarnya. Apabila belum mau sholat, maka “hajar”lah secukupnya.

    [kemampuan orang tua/dituakan, memberikan dorongan agar mereka mampu mengembangkan potensi secara optimal, jangan malah bikin kendor semangat, melemahkan, merusak semangat kreativitas mereka.
    minimalkan keterlibatan orang tua/dituakan,beri mereka kepercayaan
    dorongan pemikiran, dana dan dukungan lainnya.
    Beri kesempatan/kepercayaan diri untuk mencoba kemampuan/daya serap [atas apa yang telah dilihat/contohnya]. Dengan sikap demikian kehadiran orang tua/dituakan tetap dibutuhkan, tanpa berkesan dirinya menggurui/mendikte anak/generasi muda/anak didik.
    Biarkan mereka mencapai kedewasaan seluas-luasnya.

    Tut Wuri Handayani = di belakang mengikuti gerak anak/anak didik/bawahan.
    Di phase ini, usia dewasa kita sebagai orang tua/dituakan tinggal mengikuti tanpa harus terlibat didalamnya, hanya melihat dari kejauhan. Jika naga-naganya cenderung keliru, memberikan masukan/arahan. Agar mencapai kebaikan juga keselamatan. Sebagai orang tua
    /dituakan merasa senang bila anak/anak didik/bawahan berhasil jalani kewajibannya, tak berharap balas jasa. Dan yang di inginkan
    untuk anak/anak didik/bawahan handayani/selamat.
    Seperti ditulis dalam “Renungan KETELADANAN ADALAH KUNCI PENDIDIKAN SEPANJANG MASA”
    …namun janganlah lupa untuk selalu berdoa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi sholeh/sholehah.

    Sebagai orang tua/dituakan/pimpinan, jangan malahan menjadikan motto selayaknya dibawah ini :
    ing ngarso sung ngewuh-ewuhi = bikin kekesulitan
    ing madyo hambebingungi = bikin ragu-ragu
    tut wuri hangrepoti = bikin kendor semangat

    lha kuwi kelakuane hambocahi [jiwa muda terpenjara diraga tua]


Tinggalkan Balasan